INDEF: Efek Trump Bikin Ekonomi RI Tertekan 0,05 Persen dan Ekspor Minus 2,83 Persen

Lembaga riset independen yang berfokus pada bidang ekonomi dan keuangan, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) telah menghitung sejumlah dampak ekonomi yang akan dirasakan Indonesia dari kebijakan tarif resiprokal yang baru saja diumumkan Presiden AS Donald Trump.
Trump mengenakan tarif resiprokal terhadap Indonesia sebesar 32 persen, dengan pertimbangan defisit perdagangan AS dengan Indonesia sekitar US$19 miliar dan hambatan tarif perdagangan yang pemerintah AS klaim diberikan Indonesia ke AS sebesar 64 persen.
Dengan memanfaatkan model analisis Global Trade Analysis Project (GTAP), Ekonom Center of Industry, Trade, and Investment INDEF Ahmad Heri Firdaus mengatakan kebijakan tarif Trump itu bisa menekan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 0,05 persen.
Tekanan terhadap PDB yang akan dirasakan Indonesia itu, menurut Heri, cenderung lebih kecil dari yang dirasakan negara lain, seperti Vietnam sebesar 0,84 persen, China 0,61 persen, Thailand, 0,35 persen, dan Malaysia 0,11 persen.
“Karena kita masih cukup banyak berdagang dengan negara-negara lain seperti India, China, Uni Eropa, ASEAN sendiri. Nah, sementara bagi Cina dan Vietnam, mungkin peranan AS ini cukup penting,” kata Heri, saat konferensi pers secara daring, Jumat (4/4/2025).
Karena PDB Indonesia berpotensi menyusut akibat kebijakan perang perdagangan melalui pengenaan tarif tambahan itu, kesejahteraan di Tanah Air maupun di berbagai negara lain, menurut Heri, juga akan mengalami penurunan.
Dengan memanfaatkan pengukuran indikator Equivalent Variation, ia mengatakan, dampak pengenaan tarif terhadap kesejahteraan di Indonesia mencapai senilai US$1,99 miliar penurunan, juga lebih kecil dibanding Vietnam yang sebesar US$13,20 miliar, meski lebih tinggi dari China yang hanya minus US$246,12 juta.
“Jadi, gara-gara ada hambatan tarif tadi, maka ini akan berdampak terhadap perubahan harga. Nah, harga menjadi lebih mahal, sehingga kesejahteraan konsumen yang akan tergerus seperti itu,” tuturnya.
Dari sisi produksi di sejumlah sektor industri, ia mengatakan, kebijakan tarif Trump ini akan berdampak kuat ke industri tekstil dan wearing aparel, kemudian light manufacturing, chemical product, mineral product, besi baja, peralatan mesin maupun listrik, hingga produk elektronik dan otomotif.
“Nah, hampir semua sektor atau produk ini mengalami penurunan produksi gara-gara tadi tarif resiprokal. Kenapa produksinya turun? Ya, tadi karena ekspor Indonesia dan negara-negara lain itu diprediksi akan berkurang,” ujar Heri.
Terakhir, dampaknya terhadap kondisi ekspor, Heri menyebut akan mencapai minus 2,83 persen terhadap Indonesia. Jauh lebih kecil dibanding Kanada yang minus 36,47 persen, China 3,21 persen, Inggris 4,12 persen, meski lebih tinggi dibanding Jepang yang minus 1,89 persen, dan Vietnam 1,17 persen.
“Bagi Indonesia sendiri memang tidak terlalu besar, hanya berkurang 2,8 persen untuk ekspornya dan 2,2 persen untuk impornya,” ungkap Heri.